RESENSI BUKU: Kurikulum dan Pembelajaran

RESENSI BUKU

KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

Prof. Dr. Oemar Hamalik

 

 

  1. Identitas Buku

 

Judul Buku                  : Kurikulum dan Pembelajaran

Pengarang                    : Prof. Dr. Oemar Hamalik

Penerbit                        : PT. Bumi Aksara

Tahun Terbit                : Oktober 2017 (Cetakan Keenam Belas)

Tebal Halaman : 184

Kota Terbit                   : Jakarta

Teks                             : Bahasa Indonesia

 

  1. Judul Resensi

 

“Kurikulum dan Pembelajaran”

 

 

 

  1. Isi Buku

 

  1. Isi Buku

Dalam buku ini “Kurikulum dan Pembelajaran” terdiri dari 10 bab:

 

Bab. 1. Proses Pendidikan

 

Pada bab pertama, buku ini membahas tentang pengertian pendidikan, tujuan pendidikan, peserta didik, tenaga kependidikan dan pendekatan baru dalam pengajaran.

Pendidikan adalah suatu proses dalam rangka mempengaruhi peserta didik supaya mampu menyesuaikan diri sebaik mungkin dengan lingkungannya, dan dengan demikian akan menimbulkan perubahan dalam dirinya yang memungkinkan untuk berfungsi secara adekuat dalam kehidupan masyarakat.

Tujuan Pendidikan adalah seperangkat hasil pendidikan yang tercapai oleh peserta didik setelah diselenggarakan kegiatan pendidikan.

Peserta didik adalah suatu komponen masukan dalam sistem pendidikan yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Tenaga kependidikan adalah suatu komponen yang penting dalam penyelenggaraan pendidikan, yang bertugas menyelenggarakan kegiatan mengajar, melatih, meneliti, mengembangkan, mengelola, dan atau memberikan pelayanan teknis dalam bidang pendidikan.

Terdapat banyak pendekatan baru dalam pengajaran di beberapa bidang. Beberapa bidang tersebut adalah prinsip-prinsip belajar mengajar, aspek-aspek perkembangan peserta didik, menghormati individu peserta didik, perkembangan pribadi, metode dan teknik mengajar, konsep masalah disiplin, pengukuran dan evaluasi dan penggunaan alat-alat audio visual.

Bab. 2. Dasar Pengembangan Kurikulum

 

Pada bab ini penulis membahas pengertian kurikulum, landasan pengembangan kurikulum, komponen-komponen pengembangan kurikulum dan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum.

Pengertian kurikulum adalah sejumlah mata ajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh siswa untuk memperoleh sejumlah pengetahuan.

Landasan pengembangan kurikulum adalah, kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan sesuainya dengan lingkungan.

Komponen-komponen pengembangkan kurikulum terdiri dari beberapa aspek. Yaitu, tujuan kurikulum, materi kurikulum, metode, organisasi kurikulum dan evaluasi.

Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum didasarkan berbagai prinsip.

 

Bab. 3. Hakikat Belajar

 

Pada bab ini penulis membahas tentang pengertian belajar, teori belajar, ciri-ciri belajar dan unsur-unsur dinamis dalam proses belajar.

Belajar merupakan sebuah proses bukan hasil atau tujuan dan belajar bukanlah mengingat namun juga mengalami.

Pada buku ini dibahas tiga teori, yaitu teori connectionisme, psikologi kognitif dan psikologi Gestalt.

Ciri-ciri belajar yaitu, belajar berbeda dengan kematangan, belajar dibedakan dari perubahan fisik dan mental dan ciri belajar yang hasilnya relatif menetap.

Unsur-unsur yang terkait dalam proses belajar terdiri dari motivasi siswa, bahan belajar, alat bantu belajar, suasana belajar dan kondisi subjek yang belajar.

 

Bab. 4. Hakikat Pembelajaran

 

Pada bab ini dibahas pengertian pembelajaran, teori-teori pembelajaran, ciri-ciri pembelajaran dan unsur-unsur pembelajaran.

Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.

Teori-teori pembelajaran terdapat banyak pandangan. Lima diantara-nya adalah mengajar adalah upaya menyampaikan pengetahuan kepada peserta didik/siswa di sekolah. Mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah, pembelajaran adalah upaya mengorganisasi lingkungan untuk menciptakan kondisi belajar bagi peserta didik, pembelajaran adalah upaya mempersiapkan peserta didik untuk menjadi warga masyarakat yang baik dan pembelajaran.

Terdapat tiga ciri pembelajaran yang dibahas pada buku ini. Yaitu, rencana, kesalingtergantungan dan tujuan.

Unsur-unsur minimal yang harus ada dalam sistem pembelajaran adalah seorang siswa/peserta didik, suatu tujuan dan suatu prosedur kerja untuk mencapai tujuan.

 

 

 

Bab. 5. Tujuan Belajar dan Pembelajaran

Pada bab ini dibahas tujuan belajar, tujuan pembelajaran, klasifikasi tujuan pendidikan dan taksonomi tujuan pendidikan.

Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru, yang diharapkan tercapai oleh siswa.

Tujuan pembelajaran adalah rumusan yang luas mengenai hasil-hasil pendidikan yang diinginkan.

Tujuan pendidikan dapat diklasifikasikan berdasarkan pendekatan tertentu. Pengklasifikasian perlu diadakan supaya dapat diketahui jenis dan jenjang suatu tujuan pendidikan dan hal ini dapat membantu si perancang/pengembang program pendidikan.

Taksonomi tujuan pendidikan merupakan suatu kategorisasi tujuan pendidikan, yang umumnya digunakan sebagai dasar untuk merumuskan tujuan kurikulum dan tujuan pembelajaran.

Bab. 6. Dasar Pembelajaran

Pada bab ini dibahas asas-asas belajar, aktivitas belajar/keterlibatan langsung, perbedaan individual, pengulangan dan latihan dan lingkungan.

Asas-asas belajar terdiri dari tujuan belajar, motivasi belajar, umpan balik hasil belajar dan transfer hasil belajar.

Aktivitas belajar/keterlibatan langsung diperlukan untuk mengarahkan tingkah laku menuju ke tingkat perkembangan yang diharapkan.

Perbedaan individual dapat dilihat dari dua segi, yakni horizontal dan vertikal.

Pengulangan dan latihan dalam hubungan mengajar dan belajar adalah suatu tindakan/perbuatan pengulangan yang bertujuan untuk lebih menetapkan hasil belajar.

Individu dan lingkungan terjalin proses interaksi atau saling mempengaruhi satu dengan lainnya.

Bab. 7. Motivasi Belajar

 

Pada bab ini dibahas pengertian dan pentingnya motivasi, jenis dan sifat motivasi, prinsip-prinsip motivasi belajar dan upaya meningkatkan motivasi belajar.

Motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan timbuknya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.

Motivasi adalah kebutuhan manusia yang sifatnya bertingkat. Pemuasan terhadap tingkat kebutuhan tertentu dapat dilakukan jika tingkat kebutuhan sebelumnya telah mendapat pemuasan.

Terdapat 17 prinsip motivasi belajar. Yaitu, pujian lebih efektif dari hukuman, para siswa mempunyai kebutuhan psikologis yang perlu mendapat kepuasan, motivasi yang bersumber dari dalam diri individu lebih efektif, tingkah laku yang serasi perlu dilakukan penguatan, motivasi mudah menjalar kepada orang lain, pemahaman yang jelas terhadap tujuan-tujuan akan merangsang motivasi belajar, tugas yang dibebankan oleh sendiri akan menimbulkan minat, ganjaran yang berasal dari luar diperlukan, teknik dan prosedur pembelajaran yang bervariasi dan efektif, minat khusus yang dimiliki oleh siswa bermanfaat dalam belajar, memberikan perhatian kepada kegiatan-kegiatan siswa, kecemasan dan frustrasi berpengaruh, kecemasan yang serius akan menyebabkan kesulitan belajar, tugas-tugas yang terlalu serius membuat frustrasi siswa, masing-masing siswa memiliki kadar emosi yang berbeda, pengaruh kelompok efektif dan motivasi yang kuat erat hubungannya dengan kreativitas.

Terdapat beberapa upaya meningkatkan motivasi belajar. Yaitu, upaya menggerakkan motivasi, upaya pemberian harapan, upaya pemberian intensif, upaya pengaturan tingkah laku siswa.

Bab. 8. Pendekatan dalam Pembelajaran

 

Pada bab ini dibahas perkembangan konsep pembelajaran, model pembelajaran berdasarkan teori-teori belajar dan strategi pembelajaran.

Pandangan mengenai konsep pengajaran terus-menerus mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi pendidikan.

Terdapat empat model pembelajaran berdasarkan teori-teori belajar. Yaitu, model interaksi sosial, model proses informasi, model personal dan model modifikasi tingkah laku.

Strategi pembelajaran dibedakan menjadi empat jenis. Yaitu, pembelajaran penerimaan, pembelajaran penemuan, pembelajaran penguasaan dan pembelajaran terpadu.

Bab. 9. Pendekatan CBSA dalam Pembelajaran.

Pada bab ini dibahas konsep CBSA dalam pembelajaran dan pendekatan ketrampilan proses sebagai bagian dari CBSA.

Cara belajar siswa aktif merupakan suatu upaya dalam pembaruan pendidikan dan pembelajaran.

Pendekatan ketrampilan proses sebagai bagian dari cara belajar siswa aktif dibagi menjadi empat. Yaitu, rasional ketrampilan proses dalam pembelajaran, pengertian ketrampilan proses dan kaitannya dengan cara belajar siswa aktif, kemampuan dalam ketrampilan proses, dan penerapan ketrampilan proses dalam pembelajaran.

 

 

 

Bab. 10. Evaluasi Belajar dan Pembelajaran.

Pada bab ini dibahas pengertian, kedudukan, dan syarat-syarat umum evaluasi, evaluasi hasil belajar, evaluasi pembelajaran.

Pengukuran adalah suatu upaya untuk mengetahui berapa banyak hal-hal telah dimiliki siswa dari hal-hal yang telah diajarkan oleh guru.

Evaluasi hasil belajar adalah keseluruhan kegiatan pengukuran, pengolahan, penafsiran, dan petimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai oleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

 

  1. Penilaian Buku.

Kelebihan Buku           :

Buku ini memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut :

  1. Buku ini memberikan penjelasan lengkap bagaimana kurikulum dan pembelajaran.
  2. Buku ini menyajikan penjelasan yang jelas dan urut.
  3. Bahasa yang digunakan di dalam buku ini dapat di pahami dengan mudah dan jelas           meskipun pembacanya bukan ahli dalam pendidikan.
  4. Teori yang terdapat di dalam buku ini masuk teori yang sering digunakan               di kehidupan nyata dan cukup untuk dijadikan dasar pembelajaran.
  5. Buku ini menyajikan kondisi-kondisi nyata yang terjadi di pembelajaran sehingga   dapat memberikan pandangan nyata tentang bagaimana teori belajar dapat digunakan.

 

 

 

 

Kekurangan Buku        :

Buku ini memiliki beberapa kekurangan sebagai berikut :

  1. Buku ini di tulis pertama kali pada tahun 1994, maka dari itu beberapa konsep        pemikiran dari penulis tergolong belum mengikuti perkembangan jaman, meskipun          cetakannya di perbaharui.
  2. Penulis buku kurang memberikan perspektif dari penelitian orang lain, sehingga      pandangan yang disajikan hanya dari perspektif penulis.
  3. Pada buku ini tidak menyajikan data angka yang dapat menunjang pada pandangan           penulis.
  4. Pada penjelasan Teori Belajar hanya terdapat sedikit perbandingan antar teori.
  5. Karena kelebihan buku ini menjelaskan banyak materi, buku ini kurang fokus                     terhadap satu materi yang menyebabkan kurang dalamnya pengetahuan yang didapat   pembaca terhadap satu materinya.

 

 

  1. Analisis Teori Belajar dan Pembelajaran pada Buku “Kurikulum dan Pembelajaran” oleh Prof. Dr. Oemar Hamalik

 

Sebelum masuk pada penjelasan tentang teori belajar, terlebih dahulu perlu kita paham apa pengertian dari belajar. Terdapat banyak sekali ahli yang menjelaskan tentang pengertian belajar, namun pada tulisan ini hanya diambil sedikit dari mereka.

 

Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman.

 

Berdasarkan pengertian di atas dapat diketahui bahwa belajar merupakan sebuah proses bukan hasil atau tujuan dan belajar bukanlah mengingat namun juga mengalami. Hasil dari belajar bukanlah suatu penguasaan, melainkan perubahan kelakuan. Adapun penafsiran lain yaitu belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.  Pengertian kedua tentang belajar kedua mirip dengan pertama, di mana belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Perbedaannya terletak pada cara atau usaha pencapaian. Terdapat banyak jenis belajar, sebagai contoh dua jenis belajar adalah sebagai berikut.

 

Belajar Berdasarkan Teori Mental State

 

  1. Herbart mengembangkan teori yang dilihat dari segi psikologi asosiasi yang berprinsip bahwa kesan-kesan/tanggapan-tanggapan yang terespons pengindraan membentuk jiwa manusia termasuk mental atau kesadaran. Tingkat kesan yang diberikan akan mempengaruhi seberapa kuat kesan tersebut tersimpan dalam kesadaran. Maka dari itu apabila kesan yang diberikan lemah, kesan tersebut akan mudah dilupakan. Teori ini bersifat materialistis, yang berarti terpaku pada bahan yang diberikan. Pada teori Mental State menuntut pembelajar untuk melakukan latihan dan ulangan agar materi yang disampaikan dapat diingat lebih lama.

Dalam proses pengajaran menurut teori Mental State sangat mempengaruhi dengan metodenya yang disebut “Formal Step”.

  • – Karena itu cara belajar yang baik ialah dengan jalan memperbanyak hafalan dan dengan menggunakan hukum asosiasi reproduksi, dengan faktor ingatan sangat menonjol.
  • – Jiwa manusia terdiri dari unsur-unsur atau elemen-elemen misal 2 + 5 + 3 = 10. Satuan-satuan angka 2, 5, 3, adalah unsur-unsur, sedangkan satuan 10 adalah hasil asosiasi yang membentuk mental state Karena terdapat sebuah anggapan bahwa seorang manusia pada hakikatnya sama dengan 10.000 butir telur ayam.

 

Metode formal step pertama berupa penghafalan berprinsip semakin banyak dan

sering materi yang diberikan semakin bagus yang dihasilkan. Dalam metode ini terfokus pada pengembangan ingatan murid tentang materi yang disampaikan. Metode pertama berkaitan dengan metode kedua bahwa mental state manusia terbentuk dari banyak unsur yang bersatu. Maka dari itu, kondisi dari mental manusia sangat bergantung pada masukan dan unsur-unsur yang masuk ke dalam pemikiran manusia tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

Belajar Menurut Psikologi Behavioristik

 

Behaviorisme merupakan sebuah studi tentang tingkah laku manusia yang muncul karna rasan tidak puas terhadap teori Psikologi Daya dan Mental State yang hanya fokus pada kesadaran. Dalam behaviorisme zat atau matter  merupakan peran penting. Behaviorisme dapat menjelaskan tingkah laku manusia secara rinci dan dapat menjadi sebuah referensi pendidikan yang efektif. Belajar dalam pandangan teori Behaviorisme dapat memberikan pengaruh besar dalam proses belajar. Belajar diartikan sebagai latihan-latihan pembentukan rangsangan (stimulus) dan respons. Dengan adanya rangsangan anak dapat mereaksi dengan respons yang dapat menciptakan kebiasaan-kebiasaan otomatis belajar. Ini disebut sebagai S-R Bond Theory. Namun terdapat kelemahan pada teori ini, yaitu karna teori ini menekankan pada refleks dana otomatisasi dan melupakan kelakuan yang bertujuan (a purposive behavior).

 

 

 

TEORI BELAJAR

 

Teori Connectionisme dan Hukum-hukum Belajar

 

Teori Connectionisme memiliki doktrin pokok hubungan antara stimulus dan respons. Terdapat keterikatan yang kuat antara dorongan-dorongan dan reaksi. Ikatan antara keduanya dapat diperkuat dan dikurangi dengan mempengaruhi penggunaan dan pengaruh-pengaruh dari segi penggunaan.

 

Thorndike  dengan SR-Bond teorinya menyusun hukum-hukum belajar sebagai berikut:

 

  1. Hukum pengaruh (The law of effect)

Hubungan-hubungan diperkuat atau dilemahkan tergantung pada kepuasan

atau rasa tidak senang yang berkenaan dengan penggunaannya. Hukum pengaruh menjelaskan bahwa setiap materi-materi yang di berikan pada siswa akan berpengaruh pada bagaimana hasil dari pembelajarannya. Hasil dari belajar bergantung pada rasa senang dan puas dari proses belajar yang terjadi.

  1. Hukum latihan (The law exercise)

Atau prinsip use dan disuse. Apabila hubungan itu sering dilatih, maka ia akan

menjadi kuat (Fixed). Hukum latihan menjelaskan apabila materi terus menerus diulang atau dilakukan latihan dapat memperkuat penanaman materi yang diberikan pada siswa yang pada akhirnya materi itu tertanam kuat atau fixed.

  1. Hukum kesediaan/kesiapan (The law of rediness)

Apabila suatu ikatan (Bond) siap untuk berbuat, perubahan memberikan kepuasan, sebaliknya apabila tidak siap maka akan menimbulkan ketidakpuasan/ketidaksenangan/terganggu. Hukum kesiapan menjelaskan bahwa kondisi siswa ketika sebelum menerima materi mempengaruhi bagaimana proses penerimaan materi. Apabila siswa pada kondisi yang tidak optimal, siswa dapat merasa tidak senang atau terganggu yang mengakibatkan penolakan materi. Seperti yang di dukung oleh Schunk (2012, p. 75) apabila siswa siap menerima pelajaran merupakan sebuah tindakan kepuasan, sedangkan tidak siap merupakan sebuah hukuman.

 

Selain tiga hukum yang telah dijabarkan di atas. Pada buku Learning Theory oleh

Schunk (2012) menjelaskan bahwa Thorndike juga percaya pada proses pembelajaran sering terjadi percobaan dan gagal atau trial and error. Prinsip belajar trial and error diterapkan secara bertahap di mana hasil yang berhasil dapat dipertahankan, sedangkan hasil yang gagal dapat ditinggalkan. Pengulangan sangat penting dalam penggunaan metode ini, meskipun begitu kesadaran tidak terlalu penting. Prinsip belajar yang di buktikan oleh Thorndike dengan membandingkan hewan dengan manusia hanya dapat dapat menjelaskan sistem pada siswa SD. Namun pada siswa dewasa hubungan antara stimulus dan respons terjadi lebih kompleks.

 

Namun Thorndike melakukan revisi pada law of exercise and effect. Pada law of exercise, Thorndike melakukan percobaan yang membuktikan bahwa semakin banyak pengulangan yang dilakukan tidak membuat materi semakin dikuasai. Sedangkan revisi yang dilakukan Thorndike pada law of effect adalah bahwa efek dari hadiah dan hukuman bertolak belakang namun masih dapat dibandingkan. Penelitian oleh Thorndike menghasilkan bahwa meskipun hadiah dapat meningkatkan hubungan stimulan dan respons, hukuman tidak selalu berati melemahkan hubungan dari stimulan dan respons (Schunk, 2012). Dari hasil penelitian dapat diketahui bahwa yang melemahkan stimulan dan respons adalah adanya hubungan stimulan dan respons lain yang diperkuat (Schunk, 2012).  Selain revisi yang dibuat oleh Thorndike, teori belajar menurut Guthrie tentang hadiah dan hukuman berprinsip bahwa tidak perlu mengadakan hadiah dan hukuman dalam pembelajaran (Schunk, 2012, p. 85). Menurut Guthrie hadiah dapat membuat siswa tidak belajar karena hadiah dapat mencegah siswa untuk bereaksi pada stimulan lain yang masih berhubungan dengan stimulan utama, sedangkan hukuman dapat mencegah siswa untuk belajar karna mempelajari hal lain (Schunk, 2012, p. 85).

 

Hukum-hukum yang dikemukakan Thorndike tersebut akan lebih lengkap apabila dilengkapi dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:

 

  1. Siswa dapat memberikan berbagai reaksi terhadap stimulus (stimulus responses).
  2. Belajar dibimbing/diarahkan ke suatu tingkatan yang penting melalui sikap siswa itu sendiri.
  3. Suatu jawaban yang telah dipelajari dengan baik dapat digunakan juga terhadap stimulus yang lain (bukan stimuli yang semula), yang oleh Thorndike disebut dengan “Perubahan Asosiatif” (associative shifting).
  4. Jawaban-jawaban terhadap situasi-situasi baru dapat dibuat apabila siswa melihat adanya analogi dengan situasi-situasi terdahulu.
  5. Siswa dapat mereaksi secara selektif terhadap faktor-faktor yang sensasial di dalam situasi (preponent element) itu.

 

 

 

Prinsip-prinsip belajar di atas yang dikemukakan oleh Hamalik di atas didasari oleh prinsip belajar oleh Thorndike itu sendiri. Yaitu:

  1. Pembentukan kebiasaan. Jangan mengharapkan siswa untuk membentuk kebiasaannya sendiri.
  2. Perhatikan ketika membentuk kebiasaan yang pada akhirnya harus diberhentikan.
  3. Jangan membentuk dua atau lebih kebiasaan jika satu kebiasaan sudah cukup.
  4. Semuanya sama rata. Ciptakan kebiasaan yang akan berfungsi semestinya.

 

Prinsip-prinsip yang dapat digunakan untuk meningkatkan hasil dari penggunaan teori Thorndike diatas dapat diartikan bahwa ketiga teori Thorndike memperlukan pendampingan kuat dari guru yang dapat menerapkan teori tersebut dengan baik. Prinsip-prinsip di atas juga menjelaskan bahwa diperlukan penyesuaian teori terhadap keadaan nyata yang ada di lapangan sehingga materi yang diberikan dapat berikan secara mendalam. Hal ini diperlukan agar siswa dapat memberikan reaksi dan respons yang sesuai atau fleksibel meskipun stimulusnya diubah.

 

Belajar Menurut Psikologi Kognitif

Teori kognitif berfokus pada tiga hal, yaitu:

  1. Perantara Sentral (central intermdiaries)

Proses-proses pusat otak, seperti ingatan atau ekspektasi merupakan integrator tingkah laku yang tampak (diamati). Pandangan Hamalik selaras dengan pendapat Baharuddin & Wahyuni (2015, pp. 149-155)  pada buku yang mereka tulis berdasarkan psikologi kognitif. Pada bukunya dijabarkan empat macam ingatan atau memory, yaitu short term memory, long term memory, semantic memory dan procedural memory.

  1. Pertanyaan tentang apa yang dipelajari? Jawabannya adalah struktur kognitif, bahwa yang dipelajari adalah fakta, kita mengetahui di mana adanya, yang mengetahui alternate routes illustratis cognitive structure. Variable tingkah laku non-habitual adalah struktur kognitif sebagai bagian dari apa yang dipelajari. Prinsip ini didukung dengan pendapat Bandura bahwa pembelajaran berdasarkan kognitif perspektif yang didapat dengan melakukan observasi sendiri, menilai sendiri dan merespons sendiri (Schunk, 2012, p. 123).
  2. Pemahaman dalam pemecahan masalah. Pemecahan suatu masalah ialah dengan cara menyajikan pengalaman lampau dalam bentuk struktur perseptual yang mendasari terjadinya insight (pemahaman) di mana adanya pengertian mengenai hubungan-hubungan yang esensial. Prefensi yang digunakan adalah the contemporary structuring of the problem.

 

            Dari tiga fokus teori kognitif di atas dapat diketahui bahwa belajar secara kognitif berarti menciptakan sebuah konsep pikiran struktural kepada siswa sehingga siswa dapat menjawab sebuah pertanyaan dengan melihat fakta dan pengalaman yang diketahui sebelum menghasilkan sebuah jawaban. Sedangkan proses-proses pusat otak seperti otak dan ingatan merupakan hasil yang tampak dan dapat diamati, meskipun pada intinya pada teori ini terfokus pada pembangunan struktural sebelum menghasilkan tingkah laku yang dapat diamati. Pada penerapan teori kognitif siswa dituntut mampu berpikir logis dan tertata dalam menanggapi atau menjawab materi.

 

Prinsip-prinsip Belajar Teori Kognitif

  1. Gambaran perseptual sesuai dengan masalah yang dipertunjukkan kepada siswa adalah kondisi belajar yang penting. Suatu masalah belajar yang terstruktur dan disajikan upaya gambaran-gambaran yang esensial terbuka terhadap inspeksi dari siswa.
  2. Organisasi pengetahuan harus merupakan suatu yang dasar bagi guru atau perencana pendidikan. Susunannya dari yang sederhana ke yang kompleks, dalam arti dari keseluruhan yang sederhana ke keseluruhan yang lebih kompleks. Masalah bagian keseluruhan adalah masalah organisasi, dan tidak bertalian dengan teori pola kompleksitas. Sesuai dengan pandangan mengenai pertumbuhan kognitif, maka organisasi pengetahuan tergantung pada kompleksitas. Sesuai dengan pandangan mengenai pertumbuhan kognitif , maka organisasi pengetahuan tergantung pada tingkat perkembangan siswa.
  3. Belajar dengan pemahaman (understanding) adalah lebih permanen (menetap) dan lebih memungkinkan untuk ditransferkan, dibandingkan dengan rote learning atau belajar dengan formula. Berbeda dengan teori Stimulus Respon, teori yang menitikberatkan pada pentingnya kebermaknaan dalam belajar dan mengingat (retention).
  4. Umpan balik kognitif mempertunjukkan pengetahuan yang benar dan tepat dan mengoreksi kesalahan belajar. Siswa menerima atau menolak sesuatu berdasarkan konsekuensi dari apa yang telah diperbuatnya. Dalam hal ini kognitif setara dengan penguatan (reinforcement) pada S-R teori, tetapi teori kognitif cenderung menempatkan titik beratnya pada pengujian hipotesis melalui umpan balik..
  5. Penetapan tujuan (goal-setting) penting sebagai motivasi belajar. Keberhasilan dan kegagalan menjadi hal yang menentukan cara menetapkan tujuan untuk waktu yang akan datang.
  6. Berpikir divergen menuju ke ditemukannya pemecahan masalah atau terciptanya produk yang bernilai dan menyenangkan. Berbeda dengan berpikir konvergen yang menuju ke mendapatkan jawaban-jawaban yang benar secara logika. Berpikir divergen menuntut dukungan (umpan balik) bagi upaya tentatif seseorang yang orisinal agar dia dapat mengamati dirinya sebagai kreatif potensial.

 

Berdasarkan uraian di atas dari  prinsip-prinsip belajar teori kognitif, dapat diketahui bahwa struktur organisasi dari pembelajaran tidak berarti struktur itu harus rumit. Dari struktur yang sederhana ke kompleks disesuaikan dengan kondisi siswa. Berdasarkan prinsip belajar kognitif dijelaskan bahwa pembelajar yang berdasarkan pemahaman lebih dari pembelajaran yang hanya mengandalkan mengingat. Karena ketika siswa paham terhadap suatu materi dapat memberikan jawaban yang efektif dan tepat meskipun konteks materinya diubah. Hal ini sangat berbeda dengan teori Stimulus Respons yang mengandalkan siswa untuk mengingat. Ketika siswa hanya terfokus untuk mengingat sesuatu akan meningkatkan kemungkinan lebih besar memberikan jawaban salah atau bereaksi salah terhadap materi yang di rubah konteksnya dari materi asal. Meskipun teori kognitif bekerja secara berbeda dengan teori S-R. Teori kognitif dapat digunakan untuk menguji teori S-R pada siswa dengan menentukan benar salahnya suatu materi berdasarkan pengalaman yang telah dialami siswa tersebut. Pada prinsip-prinsip belajar teori kognitif juga menjelaskan bahwa siswa butuh berpikir divergen yang artinya sebelum siswa dapat menyimpulkan sesuatu, siswa dituntut untuk melihat banyak cara pikir dari struktur yang dibuat sebelum membuat keputusan akhir. Berbeda dengan cara pikir konvergen di mana siswa hanya menarik satu logika dari satu kejadian.

 

Belajar Menurut Psikologi Gestalt

 

Psikologi Gestalt sering disebut sebagai psikologi organisme atau field theory. Tokoh-tokoh psikologi Gestalt adalah Max Wetheimer, Wolfgang Kohler, dan Kurt Koffka (Baharuddin & Wahyuni, 2015). Menurut aliran ini, jiwa manusia adalah keseluruhan yang berstruktur. Suatu keseluruhan bukan terdiri dari bagian-bagian atau unsur-unsur. Unsur-unsur itu berada dalam keseluruhan menurut struktur yang telah ditentukan dan saling berinstalasi suatu sama lain. Pada strukturnya masing-masing itulah bagian-bagian dapat berfungsi. Sesuatu hal, perbuatan, benda, dan lain-lain hanya bermakna dalam hubungan dengan situasi tertentu. Contoh: Emas (perhiasan) hanya bermakna dalam situasi di mana ada pesta, akan tetapi akan tidak berguna dalam situasi padang pasir di mana seseorang sedang mengalami rasa haus dan dahaga. Pada penjelasan Schunk (2012, pp. 175-176) tentang teori Gestalt juga menjelaskan hal yang sama, bahwa sebuah organisasi dasar melibatkan suatu bagian kecil pada bagian yang menyeluruh dan hal yang terpenting adalah konfigurasinya, bukan pada masing-masing bagiannya. Sedangkan menurut Baharuddin dan Wahyuni (2015, p. 128) mengartikan teori Gestalt bahwa manusia adalah makhluk individu yang utuh antara rohani dan jasmaninya. Maka dari itu, ketika manusia berinteraksi dengan lingkungannya, manusia bukan hanya saling merespons namun menggunakan sisi subjektivitasnya yang tiap individu berbeda.

Pandangan ini sangat berpengaruh terhadap tafsiran tentang belajar. Beberapa pokok yang perlu mendapat perhatian antara lain ialah :

  1. Timbulnya kelakuan adalah berkat interaksi antara individu dan lingkungan di mana faktor apa yang telah dimiliki (natural endowment) lebih menonjol.
  2. Bahwa individu berada dalam keadaan keseimbangan dinamis, adanya gangguan terhadap keseimbangan itu akan mendorong timbulnya kelakuan.
  3. Mengutamakan segi pemahaman (insight).
  4. Menekankan kepada adanya situasi sekarang, di mana individu menemukan dirinya.
  5. Yang utama dan pertama ialah keseluruhan, dan bagian-bagian hanya bermakna dalam keseluruhan itu.

Teori Gestalt memfokuskan pada hubungan individu dengan lingkungan sekitarnya, meskipun bukan menjadi titik utamanya. Selain itu teori ini menegaskan bahwa kemampuan individu sangat mempengaruhi hasil pembelajaran, di mana kemampuan asli akan lebih menonjol pada hasil akhir. Menurut Gestalt adanya gangguan dari individu lain dapat mengakibatkan terbentuknya perilaku.

Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang artinya shape (bentuk) atau figure (gambar). Para peneliti yang meyakini psikologi Gestalt percaya bahwa proses belajar adalah proses menghasilkan pandangan baru, di mana persepsi yang dibentuk merupakan persepsi yang benar (Baharuddin & Wahyuni, 2015).

 

Prinsip-Prinsip Belajar Gestalt (FIELD THEORY)

 

  1. Belajar dimulai dari suatu keseluruhan. Keseluruhan yang menjadi permulaan, baru menuju ke bagian-bagian. Dari hal-hal yang kompleks menuju ke hal-hal yang sederhana. Dari keseluruhan organisasi mata pelajaran menuju tugas-tugas harian yang beruntun. Belajar dimulai dari satu unit yang kompleks menuju ke hal-hal yang mudah dimengerti, diferensiasi pengetahuan dan kecakapan.
  2. Keseluruhan memberikan makna kepada bagian-bagian. Bagian-bagian terjadi dalam suatu keseluruhan. Bagian-bagian itu hanya bermakna dalam rangka keseluruhan tadi. Dengan demikian keseluruhan yang memberikan makna terhadap suatu bagian, misal : sebuah ban mobil hanya bermakna kalau menjadi bagian dari mobil, sebagai roda. Sebuah papan tulis hanya bermakna sebagai papan tulis kalau ia berada dalam kelas, sebuah tiang kayu hanya bermakna sebagai tiang kalau menjadi satu dari sebuah rumah dan sebagainya.
  3. Individuasi bagian-bagian dari keseluruhan. Mula-mula anak melihat sesuatu sebagian keseluruhan. Bagian- bagian dilihat dalam hubungan fungsional dengan keseluruhan. Tetapi lambat laun ia mengadakan diferensiasi bagian-bagian itu dari keseluruhan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil atau kesatuan yang lebih kecil. Contoh : mula-mula anak melihat/mengenal wajah ibunya sebagai satu keseluruhan/kesatuan. Lambat laun dia dapat memisahkan mata mata ibu, mana hidung ibu, mana telinga ibu, kemudian ia melihat bahwa wajah ibunya itu cantik atau jelek, atau menarik dan sebagainya.
  4. Anak belajar dengan menggunakan pemahaman atau insight. Pemahaman adalah kemampuan melihat hubungan-hubungan antara berbagai faktor atau unsur dalam situasi yang problematik, seperti simpanse dapat melihat hubungan antara beberapa buah kotak menjadi sebuah tangan untuk mengambil buah pisang karena ia sedang lapar. Baharuddin & Wahyuni (2015, p. 128) menjelaskan bahwa yang paling penting dipelajari oleh siswa adalah apa yang dimengerti dan dipelajari oleh siswa itu sendiri. Maka dari itu teori belajar Gestalt disebut sebagai teori insight atau pemahaman.

 

Berdasarkan prinsip-prinsip belajar Gestalt di atas dapat dilihat bahwa teori Gestalt bertolak belakang dengan teori kognitif yang menempatkan cara pikir dari sederhana ke kompleks. Menurut Gestalt cara belajar diterapkan dengan memberikan gambaran utama yang kompleks sebelum dipecah ke bagian-bagian yang lebih kecil dan sederhana. Segala bagian-bagian yang sederhana menjadi bagian keseluruhan yang berguna, di mana ketika satu bagian tidak sukses maka tujuan utama akan tidak berhasil. Pada intinya menurut prinsip-prinsip Gestalt seluru bagian dari proses pembelajaran sangat berguna, apabila ada satu bagian pembelajaran yang hilang atau tidak berhasil, dapat berdampak kepada seluruh bagian kecil lainnya dan termasuk bagian utama atau kompleks. Pada prinsip belajar Gestalt juga mengungkapkan bahwa siswa harus paham terhadap hubungan dari setiap bagian kecil yang sederhana, sehingga anak dapat memahami secara menyeluruh.

 

 

Model Pembelajaran Berdasarkan Teori-teori Belajar

 

  1. Model Interaksi Sosial

Model pembelajaran interaksi dibuat berdasarkan teori belajar Gestalt atau Field theory. Pada penerapannya di lapangan model pembelajaran ini berprioritas terhadap perbaikan kemampuan (individu) untuk berhubungan dengan orang lain, perbaikan proses-proses demokratis dan perbaikan masyarakat. Meskipun fokus terhadap perkembangan sosial, faktor perkembangan sosial bukan menjadi faktor utama. Hanya saja perkembangan sosial lebih penting dari pada perkembangan berpikir atau diri sendiri.

 

Pada model pembelajaran ini terdapat beberapa jenis strategi pembelajaran yaitu:

  1. Kerja Kelompok

Tujuan dari model pembelajaran kerja kelompok adalah untuk mengembangkan hubungan interpersonal, dan keterampilan menemukan dalam bidang akademik. Kerja kelompok merupakan model pembelajaran yang paling sering digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran. Hal ini karena pengaplikasiannya mudah dan cepat, meskipun begitu kerja kelompok terbukti sangan efektif untuk mendukung keterampilan siswa dalam hubungan sosial antar siswa. Selain itu ketika siswa berada dalam kelompok akan menemukan masalah sosial, seperti perbedaan pendapat. Siswa harus dapat menyelesaikan permasalahan sosial tersebut demi kesuksesan kerja kelompok.

  1. Pertemuan Kelas

Tujuannya adalah untuk mengembangkan pemahaman mengenai diri sendiri dan rasa tanggung jawab, baik terhadap diri sendiri maupun kelompok. Ketika siswa datang ke pertemuan kelas, siswa akan menjumpai teman-temannya. Maka dari itu siswa akan memerlukan skill sosial untuk beradaptasi terhadap lingkungan kelasnya.

  1. Pemecahan Masalah atau Inquiry sosial

Tujuannya adalah untuk mengembangkan kemampuan memecahkan masalah-masalah sosial dengan cara berpikir logis dan penemuan akademik. Apabila siswa berada dilingkungan sosial maka siswa akan menemukan berbagai masalah yang perlu dipecahkan. Masalah yang nyata dalam lingkungan sosial dapat digunakan suatu bahan ajar. Guru dapat mengambil contoh masalah nyata di sekitar siswa untuk mengembangkan kemampuan sosialnya.

  1. Model Laboratorium

Tujuannya adalah untuk mengembangkan kesadaran pribadi dan keluwesan dalam kelompok. Ketika siswa berada di suatu kelas laboratorium dan dibentuk kelompok di dalamnya siswa dipaksa untuk memiliki rasa toleransi dan simpati terhadap kelompoknya.

  1. Model Pengajaran Yurisprudensi

Tujuannya adalah untuk melatih kemampuan mengolah informasi dan memecahkan masalah sosial dengan cara berpikir yurisprudensi. Dalam menerapkan model pembelajaran yurisprudensi, guru dapat menyajikan sebuah masalah sosial yang kemudian siswa memberikan reaksi atau pandangan terhadap masalah sosial tersebut (Supratmi & Safitri, 2011).

  1. Bermain Peranan

Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa menemukan nilai-nilai sosial dan pribadi melalui situasi tiruan. Dalam penerapan bermain peranan guru dapat mengajarkan siswa untuk merasakan berada diposisi lain dari sebuah bagian sosial. Hal ini dapat membuka pandangan siswa lebih luas dan meningkatkan rasa toleransi terhadap lingkungan.

 

 

  1. Simulasi Sosial

Tujuannya adalah untuk membantu siswa mengalami berbagai kenyataan sosial serta menguji reaksi siswa. Model pembelajaran ini dapat memberikan sebuah pandangan kepada siswa bahwa pada kehidupan sosial terdapat banyak jenis dan kondisi. Siswa dapat belajar tentang masalah sosial yang ada di sekitarnya. Terutama masalah sosial yang belum pernah mereka rasakan, namun melalui simulasi sosial siswa seperti di bawa ke masalah sosial itu tanpa harus terjadi nyata dalam kehidupannya.

 

  1. Model Proses Informasi

Model belajar proses informasi merupakan model belajar berdasarkan teori belajar kognitif yang berorientasi pada kemampuan siswa memproses informasi dan sistem yang dapat memperbaiki kemampuan tersebut. Pemrosesan informasi yang dimaksud adalah cara-cara mengumpulkan/menerima stimulus dari lingkungan, mengorganisasi data, memecahkan masalah dan menemukan konsep-konsep, dan pemecahan masalah, serta menggunakan simbol-simbol verbal dan non verbal. Model pembelajaran ini fokus terhadap bagaimana siswa dapat memecahkan masalah dan berpikir produktif, serta berkaitan dengan kemampuan intelektual umum.

Strategi pembelajaran berdasarkan model proses informasi:

  1. Mengajar Induktif

Strategi ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan membentuk teori. Strategi pembelajaran induktif dapat mengajarkan siswa untuk berpikir secara mandiri dalam merespons sesuatu. Siswa dapat memberikan banyak pertanyaan kepada guru, yang tujuannya dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebuah proses pemahaman siswa terhadap materi tersebut (Warimun & Murwaningsih, 2015).

 

  1. Latihan Inquiry

Strategi ini bertujuan sama dengan mengajar induktif, hanya saja perbedaan terletak pada segi proses mencari dan menemukan informasi yang diperlukan. Pada strategi pelatihan inquiry siswa di uji pada bagaimana mencari data. Siswa di wajibkan untuk aktif sendiri untuk mencari data atau fakta tentang materi tertentu.

  1. Inquiry Keilmuan

Strategi ini bertujuan untuk mengajarkan sistem penelitian dalam disiplin ilmu, dan diharapkan memperoleh pengalaman dalam domein-domein lainnya. Pada model inquiry keilmuan siswa diajarkan untuk mencari sumber-sumber materi yang berdasarkan sistem penelitian. Sehingga siswa tidak sembarangan mengambil sumber pengetahuan dari berbagai media.

  1. Pembentukan Konsep

Strategi ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir induktif, mengembangkan konsep dan kemampuan analisis. Kemampuan berpikir induktif dapat membantu siswa untuk menyimpulkan suatu kesimpulan umum berdasarkan data-data khusus yang mereka dapatkan.

  1. Model Pengembangan

Strategi ini bertujuan untuk mengembangkan intelegensi umum, terutama berpikir logis, di samping untuk mengembangkan aspek sosial dan moral. Model pengembangan meningkatkan kemampuan mandiri siswa untuk berpikir secara logis.

  1. Advanced Organizer Model

Strategi ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan memproses informasi yang efisien untuk menyerap dan menghubungkan satuan ilmu pengetahuan secara bermakna. Pada model pembelajaran ini, siswa dapat mengembangkan kemampuan dalam menghubungkan berbagai macam ilmu pengetahuan yang berbeda dalam menarik suatu kesimpulan. Selain itu siswa dapat belajar bahwa dalam suatu fenomena nyata yang ada di kehidupan tidak hanya didasarkan satu ilmu pengetahuan saja.

 

  1. Model Personal

 

Model pembelajaran personal bertolak belakang dengan teori belajar humanistik karna konsentrasinya hanya pada kemampuan individu. Model pembelajaran personal berfokus pada pembentukan pribadi individu dan mengorganisasi realitasnya yang rumit. Sasaran utama dari model pembelajaran ini adalah untuk mengembangkan kehidupan sosial perorangan yang nantinya akan membantu siswa untuk berhubungan lingkungannya.

Model pembelajaran personal terdiri dari 4 jenis strategi pembelajaran, yaitu:

  1. Pengajaran Non Direktif

Tujuan dari strategi pengajaran ini adalah untuk mengembangkan perkembangan diri pada bagian kesadaran diri, otonomi, dan konsep diri. Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Carl Rogers, Rogers mengungkapkan bahwa hubungan antar manusia yang positif akan membantu manusia untuk lebih berkembang. Dengan menerapkan model pembelajaran tidak langsung, siswa akan dibebaskan untuk berekspresi terhadap suatu kondisi. Siswa tidak dituntut untuk langsung bertanya, namun siswa dibiarkan untuk menerima dan mengikuti aliran pemikiran. Model pembelajaran ini sangat bergantung pada keinginan siswa dan guru untuk bertukar gagasan secara terbuka dan jujur.

  1. Latihan Kesadaran

Tujuan dari strategi pengajaran ini adalah untuk meningkatkan kemampuan self exploration and self awareness. Pada model pembelajaran ini siswa diharapkan menjadi lebih peka dengan lingkungannya dan memiliki keinginan yang lebih untuk mendalami sesuatu.

  1. Sinektik

Tujuan dari strategi pengajaran ini adalah untuk mengembangkan kreativitas pribadi dan pemecahan masalah secara kreatif.

 

Ketiga model pembelajaran di atas sama dengan model pembelajaran yang dijabarkan oleh Nurdyansyah & Fahyuni (2016, pp. 29-34) pada buku yang berjudul Inovasi Model Pembelajaran. Nurdyansyah & Fahyuni (2016, pp. 29-34) juga menjabarkan strategi pembelajaran yang mirip dengan penjabaran oleh Halim pada setiap model pembelajarannya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Schunk, D. H. (2012). Learning Theories (Vol. 6). (P. Smith, & M. Buchholz, Eds.) Boston, MA, United States of America: Pearson.

Supratmi, N., & Safitri, H. (2011). Model Pembelajaran Telaah Yurisprudensi pada Pembelajaran Keterampilan Berbicara Kritis dengan Menggunakan Metode Debat Konfrontatif. Jurnal Pendidikan , 12 (2), 75-79.

Warimun, E. S., & Murwaningsih, A. (2015). Model Pembelajaran Induktif untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep dan Keterampilan Generik Fisika Siswa SMA. Jurnal Penelitian & Pengembangan Pendidikan Fisika , 1 (1), 105-109.

Baharuddin, & Wahyuni, E. N. (2015). Teori Belajar dan Pembelajaran. (A. Safa, Ed.) Yogyakarta, Indonesia: AR-RUZZ MEDIA.

Nurdyansyah, & Fahyuni, E. F. (2016). Inovasi Model Pembelajaran. Sidoarjo, Indonesia: Nizamia Learning Center.

 

 

 

           

            

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s